Senin, 10 Oktober 2016

Fenomena Tawuran Pelajar Dalam Aspek Psikologi



Hampir tiap hari kita mendengar berita adanya tawuran antar pelajar atau mahasiswa. Antara lain di Jakarta, Makasar, Medan dan lain-lain. Dan kasus itu selalu terulang dan terus terulang. Tampaknya sulit mencari solusi untuk mencegah terjadinya tawuran tersebut. Andaikan petugas keamanan atau polisi datang, maka kedatangannya agak terlambat. Terkadang sudah ada yang jatuh kurban akibat dikeroyok, dipukul atau terkena senjata tajam.

Berdasarkan data-data yang ada, maka sebagian besar tawuran tersebut terjadi di kota besar. Hampir tidak pernah terjadi di kota-kota kecil. Hal ini antara lain kota besar memang identik dengan banyaknya masalah sosial. Tidak hanya masalah kemiskinan kota, kriminalitas, ketidakdisiplinan lalu lintas, kepadatan penduduk, kemacetan lalu lintas dan lain-lain.


Kejadian tawuran ditinjau dari aspek PSIKOLOGIS

 Ada teori Psikologi yang menyatakan bahwa padasarnya manusia adalah makhluk pencari kenikmatan ( Pleasure Principle ) dan segala bentuk perilakunya dilandasi dorongan Insting yaitu Insting untuk hidup ( cinta Sek libido , Eros ) dari insting kematian ( amarah , agresi, mortalis, tanathos ) namun disisi lain manusia sebagai makhluk social, manusia memiliki tanggung jawab peran sosial yang harus dilakukan dan menuntut manusia agar selalu menyesuaikan diri dalam mencapai keseimbangan antara dorongan pribadi dan tuntutan sosial. Secara alami manusia akan hidup berkelompok dan diantara mereka mengelola relasi secara intensif sehingga memiliki kebersamaan yang lebih mendalam ( sense of belongingess ) dan ada semacam aturan main tidak tertulis yang mencirikan kelompok tersebut. Menurut carl Gustaf Le Bon seorang Psikolog ( ahli ilmu jiwa massa ) mengatakan bahwa perilaku kelompok itu bersifat Khas dan memiliki ciri – ciri tersendiri 

Beberapa Teori Psikologi kelompok , antara lain :

 - SOCIAL CONTAGIOUS THEORY, dalam situasi massa membuat perilaku seseorang akan  mudah tertular oleh perilaku orang - orang disekelilingnya.

 - EMERGENCE NORM THEORY, Perilaku sesorang dalam aktifitas massa biasanya didasari dan terukur melalui norma kelompok.

 - CONVERGENCY THEORY, dinamika kerumunan biasanya terjadi ketika ada perasaan saling berbagi pendapat dan pemikiran tentang suatu hal peristiwa.

 - DE-INDIVIDUATION THEORY, Proses larutnya identitas pribadi ketika sesorang ketika berada dalam sebuah kelompok massa sehingga cnederung itrasional, sugestibel dan tidak memiliki tanggung jawab Misalnya : - Seorang dosen ketika sedang nonton bola ia akan berteriak - teriak emosional padahan sehari-hari ia sebagai seorang yang serius dan pendiam, seorang berbelanja dipasar pada hari minggu tanpa malu-malu memakai celana pendek dan mengangkat karung beras sendiri, seorang mahasiswa yang berani melempar kepala petugas pada saat demo dan lain sebagainya.


 Ada beberapa jenis massa, yaitu :
1.      Kumpulan yang tenang (audience) , sekelompok orang berkumpul untuk melakukan kegiatan tertentu dengan tertib (siswa di kelas, jemaah ditempat ibadah, arisan, dan lain sebagainya) Kerumunan (crowd), sekelompok manusia yang bertemu disuatu saat dan suatu tempat tanpa ada ikatan apa-apa (pasar,terminal,jalan raya, dan lain sebagainya).

2.      Massa yang ekspresif (mass), masa yang berkumpul dengan tujuan tertentu dan ada keikatan emosi sesaat (penonton sepak bola, massa kampanye, pidato/orasi, dan lain sebagainya)

3.      Mass yang bergerak (mob), lanjutan dari massa yang ekprsesif dan menuju tempat tertentu untuk menyalurkan aspirasi (demonstrans, buruh yang bergerak, dan lain sebagainya)

4.      Rusuh Massa (riot) : Massa yang tidak terkendali dan merusak (penjarahan) Massa Panik, massa yang tidak terkendali (takut gempa, pengunsi perang, tsunami, dan lain sebagaimana).

Jenis- jenis masa ini bersifat tidak statis dan berkembang secara dinamis sehingga saat memungkin untuk berubah menjadi jenis lain (kumpulan atau kerumunan menjadi massa yang ekspresif bahkan sampai menjadi massa yang bergerak). Hal ini sangat situasional dan tergantung kondisi lapangan dan faktor-faktor yang terkait.


Sebab-Sebab Tawuran antar Pelajar
Tawuran adalah suatu tindakan anarkis yang dilakukan oleh dua kelompok dalam bentuk perkelahian masal di tempat umum sehingga menimbulkan keributan dan rasa ketakutan (teror) pada warga yang ada di sekitar tempat kejadian perkara tawuran. Tawuran bisa terjadi antar pelajar sekolah, antar mahasiswa kampus, antar warga, antar pendukung / suporter, antar pemeluk agama, antar suku, dan bisa juga antara warga dengan pelajar, antara pendukung parpol dengan polisi dan lain sebagainya.
Tawuran yang paling sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari adalah tawuran pelajar sekolah. Tawuran antar murid sekolah biasanya terjadi karena berbagai hal, sebab-sebab terjadinya tawuran diantaranya yaitu:
1)        Budaya atau kebiasaan murid sekolah dari dulu
2)        Saling pelotot-pelototan antar pelajar sekolah
3)        Saling ejek-mengejek antar pelajar sekolah
4)        Ingin balas dendam karena ada yang diganggu
5)        Keributan imbas dari suatu pertandingan atau perlombaan, dll
Tawuran pelajar yang sudah menjadi budaya akan sulit diberantas karena siswa siswi yang bandel akan menjadi provokator tawuran dan memaksa teman-temannya serta adik kelas untuk ikut ambil bagian dalam tawuran antar pelajar. Bagi yang tidak ikut tawuran biasanya akan dimusuhi, dikerjai, dimaki-maki, diejek, difitnah, bahkan bisa diperlakukan kasar dari para pelajar nakal.

Solusi atau Upaya Memutus dan Mengurangi Frekuensi Tawuran
Berikut ini adalah beberapa solusi yang dapat mengatasi tawuran yaitu:
1.  Mengadakan seminar atau workshop yang diadakan di sekolah ataupun di lingkungan universitas tentang cara mengatasi tawuran yang semakin marak terjadi di lingkungan sekitar
2.  Orang tua juga harus memberikan perhatian dan rasa kasih sayangnya pada anaknya dan memberikan bimbingan mengenai dampak dari tawuran
3.  Pihak sekolah harus berani dan tegas memberikan hukuman dan mendidik para siswanya untuk mengembangkan dirinya menjadi pribadi yang berjiwa kepemimpinan
4.  Pihak kepolisian juga sangat berperan penting dalam mengatasi tawuran di sebagian wilayah dengan memberikan beberapa penyuluhan pada setiap sekolah
5.  Memperbanyak kegiatan ekstrakulikuler di lingkungan sekolah, agar para pelajar banyak yang ikut serta
6.  Menurunkan status sekolah taraf Internasional menjadi sekolah bertaraf biasa
7.  Melakukan kegiatan positif selama berada dilingkungan sekolah
8.  Para pelajar selalu berinovasi untuk membuat sesuatu agar nama sekolah mereka terkenal dan tentunya membanggakan bagi sekolah tersebut
9.  Guru juga harus selalu memperhatikan para anak didiknya saat di dalam kelas maupun diluar kelas ketika sedang berlangsung proses kegiatan sekolah
10.  Kepala sekolah dan guru juga harus memeriksa tas dan alat-alat bawaan yang dibawa oleh anak muridnya sebelum memasuki lingkungan sekolah agar tidak terjadi masalah yang tidak diinginkan oleh semua pihak.







https://elitasuratmi.wordpress.com/2012/05/02/tawuran-antar-pelajar/ 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar