Hampir tiap hari kita mendengar berita
adanya tawuran antar pelajar atau mahasiswa. Antara lain di Jakarta, Makasar,
Medan dan lain-lain. Dan kasus itu selalu terulang dan terus terulang.
Tampaknya sulit mencari solusi untuk mencegah terjadinya tawuran tersebut.
Andaikan petugas keamanan atau polisi datang, maka kedatangannya agak
terlambat. Terkadang sudah ada yang jatuh kurban akibat dikeroyok, dipukul atau
terkena senjata tajam.
Berdasarkan data-data yang ada, maka
sebagian besar tawuran tersebut terjadi di kota besar. Hampir tidak pernah
terjadi di kota-kota kecil. Hal ini antara lain kota besar memang identik
dengan banyaknya masalah sosial. Tidak hanya masalah kemiskinan kota,
kriminalitas, ketidakdisiplinan lalu lintas, kepadatan penduduk, kemacetan lalu
lintas dan lain-lain.
Kejadian tawuran ditinjau dari aspek
PSIKOLOGIS
Ada teori Psikologi yang menyatakan bahwa
padasarnya manusia adalah makhluk pencari kenikmatan ( Pleasure Principle ) dan
segala bentuk perilakunya dilandasi dorongan Insting yaitu Insting untuk hidup
( cinta Sek libido , Eros ) dari insting kematian ( amarah , agresi, mortalis,
tanathos ) namun disisi lain manusia sebagai makhluk social, manusia memiliki
tanggung jawab peran sosial yang harus dilakukan dan menuntut manusia agar
selalu menyesuaikan diri dalam mencapai keseimbangan antara dorongan pribadi
dan tuntutan sosial. Secara alami manusia akan hidup berkelompok dan diantara
mereka mengelola relasi secara intensif sehingga memiliki kebersamaan yang
lebih mendalam ( sense of belongingess ) dan ada semacam aturan main tidak
tertulis yang mencirikan kelompok tersebut. Menurut carl Gustaf Le Bon seorang
Psikolog ( ahli ilmu jiwa massa ) mengatakan bahwa perilaku kelompok itu
bersifat Khas dan memiliki ciri – ciri tersendiri
Beberapa Teori Psikologi kelompok , antara lain :
- SOCIAL CONTAGIOUS THEORY, dalam situasi
massa membuat perilaku seseorang akan mudah
tertular oleh perilaku orang - orang disekelilingnya.
- EMERGENCE NORM THEORY, Perilaku sesorang
dalam aktifitas massa biasanya didasari dan terukur melalui norma kelompok.
- CONVERGENCY THEORY, dinamika kerumunan
biasanya terjadi ketika ada perasaan saling berbagi pendapat dan pemikiran
tentang suatu hal peristiwa.
- DE-INDIVIDUATION THEORY, Proses larutnya
identitas pribadi ketika sesorang ketika berada dalam sebuah kelompok massa
sehingga cnederung itrasional, sugestibel dan tidak memiliki tanggung jawab
Misalnya : - Seorang dosen ketika sedang nonton bola ia akan berteriak - teriak
emosional padahan sehari-hari ia sebagai seorang yang serius dan pendiam,
seorang berbelanja dipasar pada hari minggu tanpa malu-malu memakai celana
pendek dan mengangkat karung beras sendiri, seorang mahasiswa yang berani
melempar kepala petugas pada saat demo dan lain sebagainya.
Ada beberapa jenis
massa, yaitu :
1. Kumpulan yang tenang (audience) ,
sekelompok orang berkumpul untuk melakukan kegiatan tertentu dengan tertib
(siswa di kelas, jemaah ditempat ibadah, arisan, dan lain sebagainya) Kerumunan
(crowd), sekelompok manusia yang bertemu disuatu saat dan suatu tempat tanpa
ada ikatan apa-apa (pasar,terminal,jalan raya, dan lain sebagainya).
2. Massa yang ekspresif (mass), masa
yang berkumpul dengan tujuan tertentu dan ada keikatan emosi sesaat (penonton
sepak bola, massa kampanye, pidato/orasi, dan lain sebagainya)
3. Mass yang bergerak (mob), lanjutan
dari massa yang ekprsesif dan menuju tempat tertentu untuk menyalurkan aspirasi
(demonstrans, buruh yang bergerak, dan lain sebagainya)
4. Rusuh Massa (riot) : Massa yang
tidak terkendali dan merusak (penjarahan) Massa Panik, massa yang tidak
terkendali (takut gempa, pengunsi perang, tsunami, dan lain sebagaimana).
Jenis- jenis masa ini bersifat tidak
statis dan berkembang secara dinamis sehingga saat memungkin untuk berubah
menjadi jenis lain (kumpulan atau kerumunan menjadi massa yang ekspresif bahkan
sampai menjadi massa yang bergerak). Hal ini sangat situasional dan tergantung
kondisi lapangan dan faktor-faktor yang terkait.
Sebab-Sebab
Tawuran antar Pelajar
Tawuran
adalah suatu tindakan anarkis yang dilakukan oleh dua kelompok dalam bentuk
perkelahian masal di tempat umum sehingga menimbulkan keributan dan rasa
ketakutan (teror) pada warga yang ada di sekitar tempat kejadian perkara
tawuran. Tawuran bisa terjadi antar pelajar sekolah, antar mahasiswa kampus,
antar warga, antar pendukung / suporter, antar pemeluk agama, antar suku, dan
bisa juga antara warga dengan pelajar, antara pendukung parpol dengan polisi
dan lain sebagainya.
Tawuran
yang paling sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari adalah tawuran
pelajar sekolah. Tawuran antar murid sekolah biasanya terjadi karena berbagai
hal, sebab-sebab terjadinya tawuran diantaranya yaitu:
1)
Budaya atau kebiasaan murid sekolah dari dulu
2)
Saling pelotot-pelototan antar pelajar sekolah
3)
Saling ejek-mengejek antar pelajar sekolah
4)
Ingin balas dendam karena ada yang diganggu
5)
Keributan imbas dari suatu pertandingan atau perlombaan, dll
Tawuran
pelajar yang sudah menjadi budaya akan sulit diberantas karena siswa siswi yang
bandel akan menjadi provokator tawuran dan memaksa teman-temannya serta adik
kelas untuk ikut ambil bagian dalam tawuran antar pelajar. Bagi yang tidak ikut
tawuran biasanya akan dimusuhi, dikerjai, dimaki-maki, diejek, difitnah, bahkan
bisa diperlakukan kasar dari para pelajar nakal.
Solusi atau
Upaya Memutus dan Mengurangi Frekuensi Tawuran
Berikut ini adalah beberapa solusi yang dapat
mengatasi tawuran yaitu:
1. Mengadakan seminar atau workshop
yang diadakan di sekolah ataupun di lingkungan universitas tentang cara
mengatasi tawuran yang semakin marak terjadi di lingkungan sekitar
2. Orang tua
juga harus memberikan perhatian dan rasa kasih sayangnya pada anaknya dan
memberikan bimbingan mengenai dampak dari tawuran
3. Pihak
sekolah harus berani dan tegas memberikan hukuman dan mendidik para siswanya
untuk mengembangkan dirinya menjadi pribadi yang berjiwa kepemimpinan
4. Pihak
kepolisian juga sangat berperan penting dalam mengatasi tawuran di sebagian
wilayah dengan memberikan beberapa penyuluhan pada setiap sekolah
5. Memperbanyak
kegiatan ekstrakulikuler di lingkungan sekolah, agar para pelajar banyak yang
ikut serta
6. Menurunkan
status sekolah taraf Internasional menjadi sekolah bertaraf biasa
7. Melakukan
kegiatan positif selama berada dilingkungan sekolah
8. Para pelajar
selalu berinovasi untuk membuat sesuatu agar nama sekolah mereka terkenal dan
tentunya membanggakan bagi sekolah tersebut
9. Guru juga
harus selalu memperhatikan para anak didiknya saat di dalam kelas maupun diluar
kelas ketika sedang berlangsung proses kegiatan sekolah
10. Kepala sekolah dan guru juga harus
memeriksa tas dan alat-alat bawaan yang dibawa oleh anak muridnya sebelum
memasuki lingkungan sekolah agar tidak terjadi masalah yang tidak diinginkan
oleh semua pihak.
Referensi: http://darmawatiesmeralda.blogspot.co.id/2013/05/makalah-psikologi-tentang-tawuran.html
http://www.kompasiana.com/dwiasiwiyatputera/analisa-psikologi-terhadap-tawuran-di-jakarta-pusat_550108a9813311255efa838a
https://elitasuratmi.wordpress.com/2012/05/02/tawuran-antar-pelajar/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar